Halo sobat militia!
Setiap tahun, industri game menyaksikan “El Clasico” versi tembak-menembak: persaingan abadi antara Call of Duty (COD) dan Battlefield. Selama satu dekade terakhir, kita harus jujur, Call of Duty sering kali duduk nyaman di singgasana penjualan dan popularitas, sementara Battlefield berjuang dengan identitasnya (kita semua ingat peluncuran 2042, bukan?).
Namun, laporan intelijen terbaru dari garis depan tahun 2025 menunjukkan perubahan angin yang drastis. Tahun ini, tampaknya giliran DICE dan EA yang tersenyum lebar, sementara Activision harus menelan pil pahit.
Mengapa kami berani bilang Battlefield 6 mengalahkan Black Ops 7? Mari kita bedah laporannya.
Black Ops 7: Ketika Narasi Kehilangan Jiwanya
Salah satu kekuatan utama Call of Duty, khususnya seri Black Ops, selalu terletak pada mode kampanye (campaign) cerita tunggalnya. Intrik spionase, plot twist “the numbers, Mason!”, dan aksi set-piece ala film Hollywood adalah standar emas mereka.
Sayangnya, tahun ini benteng pertahanan itu runtuh. Kampanye Call of Duty: Black Ops 7 dinilai “tidak bagus” atau mengecewakan. Ketika sebuah franchise yang membanggakan narasi sinematik gagal memberikan pengalaman cerita yang memikat, itu adalah sebuah lampu merah besar.
Jika kampanye terasa hambar dan gagal memberikan dampak emosional atau keseruan yang diharapkan, fondasi game ini menjadi goyah, terlepas dari seberapa cepat gameplay multiplayer-nya.
Battlefield 6: Sang Raja Telah Kembali
Di sisi lain parit pertempuran, Battlefield 6 justru mendapatkan sambutan yang sangat kontras. Setelah kekecewaan di seri sebelumnya, DICE tampaknya benar-benar mendengarkan jeritan komunitasnya.
Laporan dari para gamer, yang telah menjajal game ini pasca perilisan, memberikan kesimpulan yang membuat para veteran Battlefield bernapas lega: “Battlefield benar-benar kembali kali ini”.
Apa artinya “kembali”? Ini berarti kembalinya kekacauan skala besar yang terstruktur, kehancuran lingkungan (destruction) yang mengubah jalannya pertempuran, dan kerja sama tim antar kelas (class system) yang solid. Bukan sekadar meniru tren hero shooter tetangga, Battlefield 6 kembali menjadi dirinya sendiri: sebuah sandbox perang yang megah dan tak terprediksi.
Kesimpulan: Kemenangan Identitas
Kemenangan Battlefield 6 atas Black Ops 7 tahun ini bukan hanya soal grafik atau jumlah senjata. Ini adalah kemenangan identitas.
Battlefield berhasil karena ia kembali merangkul apa yang membuatnya dicintai: perang skala besar yang otentik. Sementara itu, Black Ops 7 tampaknya tersandung di area yang seharusnya menjadi kekuatan utamanya, yakni mode kampanye.
Tahun 2025 mungkin akan dikenang sebagai tahun di mana para prajurit akhirnya “pulang” ke Battlefield.
Bagaimana menurutmu, sobat militia? Apakah kamu setuju bahwa Battlefield 6 lebih unggul tahun ini, atau kamu masih setia pada COD? Mari berdebat (dengan santai) di kolom komentar!
Dapatkan informasi menarik terkait features di Gamemilitia.com